Kamis, 26 Januari 2012

SEMBELIT OH SEMBELIT

Sejak fifi mulai MPASI, ada satu masalah yang selalu menghantuiku, yitu Sembelit. Di awal-awal MPASI fifi pernah sembelit berat sampai harus dokter menggunakan microlax untuk membantunya BAB. Sejak saat itu, aku jadi trauma. Dua hari fifi gak BAB, aku sudah kalang kabut. Aku hitung mulai 6 bulan sampai usianya 7 bulan, sudah 3x dia menggunakan microlax. Lama-lama aku tidak tega kalau dia terus-terusan dipakein microlax. Aku juga gak mau dia minum obat-obatan pencahar dari bidan. Setelah gabung ke grupnya emak-emak yang senang masak untuk baby nya, aku menemukan beberapa cara yang bisa kugunakan untuk mencegah sembelit

1.       Minum air putih ketika bangun tidur dan habis makan
Ini lumayan mudah diterapkan, karena fifi suka banget minum air putih J

2.       Memperbanyak konsumsi buah-buahan
Buah yang bisa melancarkan sembelit antara lain pir. Dari pengalaman ibu-ibu, pir yang baik untuk bayi yaitu pir xiang lie. Bentuknya kecil tapi rasanya manis. Yang jadi masalah harganya lumayan mahal. Dan hanya ada di supermarket. Tapi demi anak.. gak masalah deh
Ada yang bilang pepaya juga memperlancar BAB. Tapi untuk fifi sepertinya pepaya gak manjur. Padahal kalau berhasil kan lumayan, pepaya  murah meriah

3.       Konsumsi yogurt
Lha kalau ini bener-bener sukses. Yogurt dicampur buah jadilah Lassy. Yang jadi masalah yogurt yang baik untuk bayi adalah yogurt plain tanpa tambahan gula. Rekomendasi merk Yummi. Tapiiiii... di Gresik kagak ada L  Nemu merk King. Yogurt plain tanpa tambahan apa-apa. Tapi adanya kemasan botol gede. Harganya Rp. 15.000,- per botol. Padahal yogurt kalau kemasannya sudah dibuka paling hanya bertahan satu minggu. Awal-awal aku ikut makan. Sayang kalau dibuang. Lama-lama aku bosen  juga. Jadi walau belum habis, satu minggu sudah aku buang L

4.       Senam
Fifi ditidurkan terlentang. Terus kakinya ditekuk ke atas membuat gerakan seperti mengayuh sepeda.

5.       Pijat
Fifi dua minggu sekali pijat di bidan. Emaknya tidak berani memijat sendiri :-p

Setelah berbagai cara, akhirnya fifi mulai lancar BABnya. Masih belum setiap hari sih.. tapi tidak sampai sembelit

BUAH-BUAHAN UNTUK FIFI

Ini adalah hal yang paling mendebarkan buatku. Menyiapkan makanan pertama untuk Fifi. Setelah baca-baca dari berbagai sumber aku memutuskan untuk memberikan buah sebagai makanan pertama. Buah dihaluskan dan dicampur dengan ASI.. Jreng !! Jadilah BUBUR BUAH SUSU
 Aku mencobakan makanan yang sama selama 3 hari baru kemudian mencoba makanan yang lain. Buah pertama yang aku berikan adalah pisang. Dan pisang berhasil membuatku trauma sampai sekarang. Karena pisang membuat fifi sembelit berat sampai harus dibawa ke rumah sakit.
Ini jadwal fifi di awal-awal MPASI nya :
Hari ke :
1 – 2


3 – 5


6 – 8


9 – 11


12 – 14


15 – 17


18 – 20  


21 – 23


24 – 26



27 – 29


30 – 31

Pisang
Langsung dihentikan karena membuat sembelit

berhenti dulu MPASInya. Karena masih trauma kejadian fifi menjerit-jerit kesakitan gara-gara BAB nya sekeras batu

pepaya
ok, sepertinya gak masalah

pir kukus
ok

melon
ok

apel kukus
sepertinya fifi gak terlalu suka

alpukat
horee.. fifi suka banget. Sudah habis masih terus-terusan mangap J

mangga
prok .. prok.. prok.. ini lebih mantap J J J J

jambu merah
walaupun harganya lumayan mihil.. gak papalah demi fifi sayang. Tapi kok kayaknya fifi biasa aja ya

jeruk baby
ok

semangka
ok

Peralatan MPASI Fifi

Setelah beberapa bulan berkecimpung dengan peralatan per-ASI-an, sekarang saatnya beralih ke peralatan per-MPASI-an
Ada beberapa perlatan yang aku gunakan untuk mempersiapkan MPASI untuk fifi

1. Saringan Kawat, Grinder dan Blender

Ini adalah perlatan pertamaku. Karena di awal-awal MPASI, fifi hanya makan buah, maka aku hanya  butuh saringan kawat untuk menghaluskan buah. Setelah menunya makin beragam, aku memutuskan untuk membeli Grinder manual dan Blender
Ini penampakannya grinder :


2. Panci Kukusan

3. Panci Stainles dan Sendok Kayu

4. Ice Cube dan Plastik Wrap
    Ini untuk buat frozen food

5. Food Container
    Gunanya untuk menyimpan frozen food

6. Baby Feeding Set
    Aku pakai 2 macem, merk lusty bunny dan merk tomtip. Yang tomtip, sendoknya ada sensor 
    panasnya :-)

7.  Gelas

8.  Slow Cooker
      Ini berguna banget untuk bikin bubur atau nasi tim

9.  Parutan Keju



berbagi tempat antara asip dan baby food

Selasa, 24 Januari 2012

MPASI Pertama

Fifi sudah 6 bulan. Sekarang waktunya dia belajar makan. Aku sudah bertekad tidak memberikan makanan instan ke Fifi. Awal-awal mpasi fifi, aku sudah membuat kesalahan karena kurangnya pengetahuanku. Fifi sembelit berat karena kebanyakan makan pisang. Ketidaktahuanku dan ketidakmampuanku mengatur PRT yang sok tau menjadi penyebabnya. Dulu aku gagal memberi fifi ASI eksklusif karena tidak kuat mendengar perintah dari kanan kiri untuk memberi sufor, walaupun hanya beberapa kali minum sufor, tetep saja aku menyesal. sekarang aku tidak ingin kecolongan lagi. Setelah browsing sana sini, aku tahu bahwa ada beberapa pendapat mengenai MPASI.

Pendapat Pertama :
MPASI pertama sebaiknya serealia seperti beras atau gandum. Alasannya karena serealia paling sedikit mengandung resiko alergi, sehingga pemberian serealia untuk MPASI pertama dianggap aman untuk pencernaan bayi yang belum kuat

Pendapat Kedua :
MPASI pertama sebaiknya sayuran. Alasannya karena rasa tawar pada sayur membuat bayi nantinya akan meyukai makan sayur sejak dini. 

Pendapat Ketiga :
MPASI pertama sebaiknya buah-buahan. Alasannya buah segar mengandung karbohidrat yang mudah dicerna yaitu gula buah. Kemudahan gula buah dicerna bayi mendekati ASI karena secara alami dilengkapi enzim pencerna. Sehingga buah digolongkan dalam predigested food atau semidigested food, yaitu makanan yang sudah separuh tercerna 

Setelah dipikirkan dengan baik, akhirnya aku memutuskan memberi fifi buah-buahan sebagai MPASI pertama :-)
Semangat !!!
  

Senin, 23 Januari 2012

SUSAHNYA WAKTU DITINGGAL AYAH

Pekerjaan membuat aku dan mas Rosyid hidup berjauhan. Aku tinggal di Gresik, sedangkan mas Rosyid tinggal di Malang. Sehari-hari aku hanya tinggal bersama fifi dan mbak Lud (pengasuh fifi). Hidup bertiga tanpa ada laki-laki di rumah membuat kami harus serba bisa mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam rumah tangga.  Ada banyak kejadian yang dulu bisa membuat kami hampir menangis, tapi sekarang kalo mengingatnya, aku ingin tertawa.

Kejadian I : Gas Elpiji Habis
Biasanya kalau gas elpiji habis, aku beli di tukang air, dan aku minta sekalian memasangkan. Aku juga pernah memasang gas sendiri dan sukses. Tapi suatu hari, gas elpiji habis, dan aku minta mbak Lud untuk beli di warung. Aku pd aja, yakin kalau bisa masang. Ternyata  oh ternyata, aku gagal masang. Berkali-kali aku coba tapi terus terusan gagal. Sepertinya karetnya pengamannya harus diganti. Dan aku coba ganti, tetep aja gak bisa. Padahal hari itu hari Rabu. Kalau nunggu mas Rosyid datang berati kami harus bertahan tanpa kompor selama dua hari. Gimana nih. Mau minta tolong tetangga, minta tolong siapa. Terpaksa selama 2 hari, kami harus bisa bertahan. Untuk air mandi Fifi, kami gunakan panci listrik. Karena ukurannya kecil, terpaksa masak air berkali-kali terus dimasukkan termos. Untuk makan aku dan mbak Lud, kami beli mateng. Wuih rempong boo..  Untungnya 2 hari kami bisa sukses bertahan tanpa kompor.

Kejadian II:  Kucing oh kucing..
Di halaman belakang rumah ada beberapa buah pohon pisang. Secara rutin, mas Rosyid memotong pohon itu, supaya tidak bertambah tinggi. Lama kelamaan mas Rosid malas untuk memotong pohon pisang itu. Akhirnya daun pohon itu mencapai tembok pembatas rumah. Akibatnya kucing-kucing yang lewat tembok sering terpeleset dan jatuh ke halaman rumahku.  Kalau yang jatuh kucing gede, biasanya bisa dengan mudah diarahkan untuk keluar. Tapi yang jadi masalah kalau yang jatuh kucing kecil. Waktu itu yang jatuh langsung 2  ekor kucing. Kecil-kecil pula. Kayaknya baru lahir. Liat orang takut. Jadi susah banget mengeluarkannya. Cara satu2nya dengan megang tuh kucing terus dibawa keluar. Masalahnya, aku dan mbak Lud sama-sama gak ada yang berani megang. Akhirnya terpaksa nunggu mas Rosyid datang hari Sabtu. Kasihan banget liat kucing-kucing kecil itu. Apalagi kalo pas hujan, kedinginan. Aku takut kalau kucing-kucing itu mati disitu.  Untungnya sampai beberapa hari kucing-kucing itu bisa bertahan. Dan dengan susah payah akhirnya mas Rosyid bisa mengeluarkan kucing-kucing itu. Supaya kejadiantidak terulang, akhirnya mas Rosyid mau ‘menebang’ pohon-pohon pisang di belakang rumah J

Kejadian III : Gembok Macet
Sudah beberapa hari ini di tempatku hujan terus-terusan. Yah lumayan, mendinginkan suasana. Tapi hujan juga membawa masalah baru bagi kami. Gembok pagar yang terus-terusan terkena air hujan lama-lama jadi susah dibuka.  Hari itu, mbak Lud bilang kalau air minumnya habis. Aku lalu menaruh galon di dekat pintu. Waktu tukang air lewat, langsung aja dia berhenti dan ketok2 pintu pagar. Ternyata oh ternyata, gembok pagar tidak bisa dibuka. Si tukang air juga berusaha membantu, tapi tidak berhasil juga.  Sampai akhirnya kami gak jadi beli air. Kasihan kalau tukang air kelamaan disini. Setelah itu, aku nelpon mas Rosyid. Dia malah marah-marah. Dia menyuruhku menelpon pak Kodir di kantor dan meminta dia untuk bawa gergaji. Aku jelas tidak mau. Aku lalu minta olong ke Diyah untuk pinjam gergaji ke Pak Kodir dan minta dia membawanya ke rumahku. Untungnya dia mau.  Sambil menunggu, mbak Lud mencoba memukul gembok dengan kunci inggris. Berkali-kali dia mencoba, akhirnya gembok bisa terbuka. Alhamdulillah..

Kejadian IV : Ada Kadal Masuk Rumah
Kalau ingat-ingat kejadian ini, aku masih merinding. Kejadiannya pagi hari, habis mandi dan siap-siap berangkat kerja. Waktu itu aku pakai baju yang sudah aku pakai kemarin. Waktu memakai baju itu, gak terasa apa-apa. Biasa-biasa aja. Sambil memakai jilbab, aku ngobrol  dengan mbak Lud. Tiba-tiba di leherku terasa ada yang merayap. Secara reflek, aku mengibaskan jilbab yang mau aku pakai. Waktu menoleh ke belakang, ternyata ada kadal yang jatuh ke lantai. Kontan aku menjerit karena kaget. Fifi yang kaget mendengar jeritanku, langsung aja menangis sekencang-kencangnya. Kadal itu kemudian lari ke bawah lemari es. Aku dan mbak Lud sama-sama bingung. Tidak ada satupun dari kami yang berani mendekati kadal itu. Akhirnya mbak Lud lari memanggil tetangga sebelah untuk minta tolong. Waktu tetanggaku datang, ternyata kadal itu sudah tidak ada di bawah lemari es. Mungkin masuk ke dus-dus yang ada di bawah meja. Langsung saja, kami bertiga bongkar-bongkar. Dan ternyata tidak ketemu juga. Tetanggaku membesarkan hati kami, mungkin kadal itu sudah keluar tanpa sepengetahuan kami.  Walaupun aku ragu-ragu, tapi mau gimana lagi. Aku harus segera berangkat bekerja. Yang aku takutkan kadal itu merambat ke kasur tempat Fifi bermain. Pulang kerja, mbak Lud langsung laporan, kalau dia sudah menemukan kadal itu. Ternyata kadal itu masuk ke dus kosong. Waktu itu, mendengar suara gemerisik, mbak Lud memeriksa kardus itu, dan kelihatan ekornya. Akhirnya, tanpa dibuka kardus itu dibuang ke tempat sampah.

Banyak lagi kejadian-kejadian yang membuat kami histeris. Tapi setelah kami bisa menyelesaikannya, kami bisa tertawa mengingatnya. Ditinggal ayah membuatku belajar menjadi wanita kuat dan tidak manja J

Jumat, 06 Januari 2012

Serba Serbi PRT

Selama Fifi tinggal di Gresik, dia sudah 3 kali ganti pengasuh. Memang benar ucapan teman-teman, susah sekali nyari baby sitter. Wanita-wanita di tempatku lebih senang bekerja di pabrik daripada menjadi PRT.

Ketika aku masuk kerja setelah cuti bersalin, Fifi diasuh oleh Nina. Dia berumur sekitar 19 tahunan. Lulus Madrasah Aliyah dia tidak melanjutkan kuliah karena orang tuanya tidak mampu. Dia juga tidak bekerja. Dia dulunya murid Mas Rosyid. Mas Rosyid berani menjamin kalau Nina adalah anak yang jujur dan bisa dipercaya. Kekurangannya, dia belum pernah mengasuh bayi. Jadi, untuk menutupi kekurangannya itu, ibu mertuaku mentraining Nina selama seminggu. Mulai memandikan, memberi susu, menidurkan sampai mengajak bermain fifi. Untuk seorang pemula, Nina lumayan bisa diandalkan.
Selain itu, dia tidak suka nonton sinetron, ngobrol soal politik nyambung, ngobrol tentang olahraga oke. pokoknya sip deh. nyambung kalau diajak ngobrol. 1,5 bulan aku mulai nyaman dibantu Nina. aku memperlakukan dia bukan sebagai PRT, tapi lebih sebagai adik sendiri. Kemudian waktu lebaran kami mudik ke Malang. Aku libur satu minggu dan ngambil cuti setelah lebaran. Jadi fifi di Malang kurang lebih 2 minggu. Satu minggu sebelum kami kembali ke Gresik, tiba-tiba Nina datang ke rumah. Aku kira dia mau silaturahmi karena kan masih suasana lebaran. Ternyata dia mau pamit dan minta maaf karena dia mendapatkan pekerjaan yang (katanya) jauh lebih besar gajinya. Terus terang aku kaget sekali. Satu minggu lagi kami harus kembali ke Gresik, dan tiba-tiba PRT minta berhenti. Tapi harus gimana lagi.

Dalam waktu 1 minggu, alhamdulillah kami dapat pengganti Nina. Namanya Mbak Sunani. Umurnya sekitar 50 tahunan. Dia tetangga mertuaku. Sebenarnya suaminya tidak begitu setuju kalo mbak Sunani ikut kami ke Gresik. Tapi ibu mertuaku meyakinkan kalau aku akan segera pindah dan kami mungkin hanya sebentar di Gresik. Akhirnya sekarang fifi diasuh oleh Mbak Sunani. Mula-mula aku kurang sreg dengan mbak Sunani. Tapi perasaan itu aku tepis. Alhamdulillah kami dapat  orang yang bisa membantu menjaga fifi, dan orang itu sudah berumur dan berpengalaman. Tapi ternyata perasaanku benar. Mbak Sunani orang yang suka mengeluh dan agak rewel. Ini gak suka itu gak suka. Aku ngalah aja, karena aku merasa butuh, yang penting fifi ada yang menjaga. Ngasih tau orang yang lebih tua memang susah. Dia selalu menjawab kalau dia sudah punya anak cucu dan semuanya ok2 aja. Pokoknya susah sekali dikasih tau. Akhirnya andalanku, adalah "ini perintah dokter". Kemudian tiba-tiba dia minta berhenti. Alasannya, anaknya yang dari Kalimantan datang. Aku dan mas Rosyid benar-benar kebingungan. Mendadak sekali. Tidak mungkin mencari pengganti dalam waktu 2 hari. AKhirnya terpaksa meminta bantuan ibu mertua. Ibu tinggal di Gresik selama 1 minggu sambil menunggu dapat pembantu baru. Satu minggu belum dapat, akhirnya Fifi aku bawa pulang ke Malang. Aku titipkan ke ibu mertua. Jadi selama 2 minggu fifi diasuh neneknya.

Aku dan Mas Rosyid hampir putus asa. Kami tidak bisa mendapatkan pengganti mbak Sunani. Akhirnya ibu menawarkan solusi. Dia menawarkan mbak Ludiyah, orang yang sudah 1 tahun bekerja membantu ibuku. Tapi mbak Ludiyah meminta gajinya dinaikkan. Kalau tidak, dia tidak bersedia karena dia sendirian menghidupi 2 anaknya yang masih sekolah. Ya sudahlah, walaupun agak keberatan dengan gajinya, yang penting fifi ada yang menjaga. Dan terbukti hingga masuk bulan ketiga dia masih bertahan dan bisa dipercaya menjaga fifi :-)

Kamis, 05 Januari 2012

Breastfeeding Father

Ini adalah sepenggal kisah yang akan selalu mengingatkanku, bahwa aku harus selalu bersyukur mendapatkan suami yang  baik dan selalu mendukungku. seorang suami dan ayah yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya ..

Rumah kontrakan kami baru bisa ditempati tanggal 14 Juli. Padahal tanggal 1 Juli aku sudah harus masuk kerja. Setelah perdebatan panjang, akhirnya kami memutuskan, dengan segala cara kami harus tetap memberikan ASI untuk Fifi. Aku akan pulang dua hari sekali dengan membawa ASIP untuk Fifi. Sebenarnya aku sedikit panik, karena teknik memerahku belum canggih-canggih amat. Sekali perah aku hanya dapat maksimal 60 cc. Fifi minum tiap 2 jam sekali. Berarti paling tidak aku harus mengumpulkan sekitar 12 botol sehari. Membayangkan saja aku sudah panik. Sisa waktu cutiku harus kuisi dengan kegiatan memerah ASI. Padahal aku hanya bisa memerah ASI waktu malam hari waktu Fifi sudah tidur.

Akhirnya hari itu datang juga. Aku berangkat pagi-pagi ke Gresik dengan langkah yang berat. Di bis, aku tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. Aku teringat Fifi. Aku tau, aku tidak boleh stres, karena stres dapat mempengaruhi produksi ASIku

Karena di koskosan tidak ada kulkas, aku harus menginap di rumah saudara. Ini supaya di malam hari, aku bisa memerah ASI sebanyak-banyaknya. Dua hari di Gresik, dan sekarang hari Rabu, ini saatnya aku pulang ke Malang dengan membawa oleh-oleh ASIP untuk Fifi. Aku pulang kerja jam 16.00, dan harus menempuh perjalanan pulang selama 4 jam (kalau tidak macet). Sampai rumah, Fifi sudah tidur. Esoknya jam 03.00 aku sudah harus bangun dan bersiap-siap berangkat lagi ke kantor di Gresik. Hari Kamis pagi aku nyampe Gresik dan hari Jumatnya aku pulang lagi ke Malang. Baru dua kali perjalanan, aku sudah ambruk. Badanku sakit. Aku tau fisikku tidak kuat untuk perjalanan sesering itu. Dua hari libur, aku punya waktu untuk istirahat dan memulihkan tenaga. Tapi aku tidak yakin kalau minggu depan aku sanggup menjalani yang seperti ini lagi. Ditambah lagi, ada telpon dari yang punya rumah kontrakan, kalau dia meminta tambahan waktu lagi untuk memperbaiki rumahnya. Akhirnya aku bilang ke Mas Rosyid, kalau aku sudah tidak sanggup.
Tapi ternyata Mas Rosyid belum menyerah. "Kalau kamu tidak bisa pulang, aku yang akan ke sana ngambil ASI untuk Fifi"  begitu katanya.



Perjuangan kamipun berlanjut. Hari Senin pagi, aku kembali ke Gresik. Hari Selasa pagi, mas Rosyid datang mengambil ASI dan langsung pulang naik bis ke Malang. Hari Kamis juga begitu. Pagi-pagi dia datang , ngambil ASI dan langsung pulang. Dan itu berlangsung selama dua minggu. Aku tahu mas Rosyid sangat capek. Harus bolak balik Gresik-Malang. Ditambah lagi kerja sampe malam. Tapi dia tidak mengeluh sedikitpun.
Akhirnya... Tiba hari kami pindahan. Berakhir juga perjalanan PP Gresik-Malang. Tapi perjalanan kami untuk memberikan Fifi yang terbaik masih sangat panjang ..